Wagub Dimyati mengatakan kualitas pelaksanaan MTQ sangat tergantung pada sikap dewan hakim ketika menilai, jangan mendahulukan kepentingan tertentu.
“Jangan sampai singkatan Hakim jadi Hadap ke Aku Kalau Ingin Menang,” katanya, Senin.
Akronim tersebut merupakan alarm bahaya jika terjadi pada MTQ ke-16 Kota Tangsel, karena nanti akan berpengaruh pada pelaksanaan MTQ Provinsi sehingga tidak akan melahirkan peserta terbaik di MTQ Nasional.
“Hati-hati betul ya para hakim, karena di tangan anda sekalian nasib kafilah Banten di MTQ Nasional. Ini penting untuk saya sampaikan, karena kan sebentar lagi MTQ Banten terus nanti kan harus menang di nasional,” dia mengingatkan.
Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk menempatkan MTQ sebagai cara menguatkan spritual dan jiwa ksatria, sehingga jangan sampai dikotori oleh prilaku persekongkolan dalam memenangkan peserta.
“Makna luhur MTQ itu penguatan spiritual, bagi semua yang terlibat. Ini kan dalam rangka memuliakan Al-Quran juga di tanah Banten,” ucapnya.
Dia membeberkan perjalanan MTQ Banten ke depan butuh sosok yang teguh dalam mengamalkan nilai kejujuran dalam melakukan penilaian. Jika nanti terdapat yang melanggar, dia meminta untuk segera dievaluasi untuk kebaikan bersama.
“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai wahana silaturahmi yang baik dan jangan sampai terjadi prilaku yang bertentangan dengan nilai luhur Al-Quran,” dia mengajak.
Diberitakan,Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menyebut Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) ke-16 Kota Tangsel lebih inklusif karena melibatkan tuna rungu.
Ini kali pertama di tanah air MTQ melibatkan tuna rungu meski dalam eksebisi yang sebelumnya ada Cabang Tunanetra.
“MTQ ke-16 Kota Tangsel menjadi inspirasi bagi kabupaten dan atau kota di tanah air dalam hal melibatkan tuna rung,” katanya dalam pembukaan MTQ ke-16 Kota Tangsel di Kawasan Kantor Kecamatan Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangsel pada Senin malam 4 Agustus 2025.
Dia mengaitkan MTQ dengan karakter religius yang melekat dalam mota Tangsel, sehingga kegiatan pecinta Al-Quran tersebut membantu Pemerintah Kota atau Pemkot Tangsel dalam melakukan pembangunan.
Pembangunan bagi dia, bukan sekedar bentuk fisik tapi juga non fisik yakni karakter dengan sikap religius yang melekat pada warga. Ini menjadi penopang kuat berjalannya pembangunan di Kota Tangsel yang dari awal berdiri menjadikan aspek religius sebagai dasar.
“Kota Tangsel berdiri kokoh dengan pondasi religius sejak pertama kali berdiri. Jadi MTQ bukan sekedar perlombaan, tapi upaya untuk membumikan nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Nilai Al-Quran tersebut salah satunya adalah memberikan pembangunan yang mempunyai inklusi sosial dengan menempatkan sama semua warga, salah satunya tuna rungu.
“Kami ucapkan terima kasih atas terobosan LPTQ Tangsel dalam mengadakan lomba bagi tuna rungu. Semoga ini menjadi titik awal untuk melaksanakan lagi di tahun mendatang,” demikian dia menutup.

Agustus 04, 2025
Bimas Tangsel






Posted in