KENCANA LOKA (Kemenag Tangsel) - Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melakukan pemusnahan buku nikah yang sudah kadaluarsa, Kamis sore (28/08/2025). Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan dokumen dan mencegah penyalahgunaan buku nikah yang sudah tidak berlaku.

Pemusnahan buku nikah kadaluarsa ini dilakukan dengan cara dibakar dan dihancurkan, sehingga tidak dapat digunakan lagi. Kegiatan ini juga sebagai bagian dari upaya Kemenag Tangsel untuk meningkatkan keamanan dan integritas dokumen kependudukan dan keagamaan.



Kepala Kantor Kemenag Tangsel, Ahmad Rifaudin, menjelaskan pemusnahan buku nikah kadaluarsa ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk memastikan keamanan dokumen dan mencegah penyalahgunaan. 

"Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan keamanan dan integritas dokumen kependudukan dan keagamaan, serta memastikan bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak disalahgunakan," ujarnya.
.
Dengan adanya pemusnahan buku nikah kadaluarsa ini, Kemenag Tangsel dapat memastikan bahwa dokumen-dokumen kependudukan dan keagamaan di Tangsel aman dan terjamin keintegritasinya. Kegiatan ini juga sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas Kemenag Tangsel dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Pemusnahan buku nikah kadaluarsa ini disaksikan oleh Kasubbag TU, Ihsan Suryadi , Kasi Bimas Islam, Muhammad Edi Suharsongko, perwakilan pihak kepolisian, para kepala KUA, dan pegawai Kantor Kemenag Tangsel. 
















 

                                                                             
PAMULANG (Kemenag Tangsel) – Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam kembali menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Bertempat di SMK Letris Indonesia 2 Pamulang, acara ini dibuka oleh Kepala Seksi Bimas Islam, Dr. H. M. Edi Suharsongko, M.Pd., Rabu (20/08/2025).

Dalam sambutannya, Kasi Bimas Islam, M. Edi Suharsongko. menekankan pentingnya pembinaan karakter dan mental remaja di usia sekolah dalam menghadapi tantangan zaman, terutama terkait dengan isu-isu krusial di kalangan remaja seperti pernikahan dini, pergaulan bebas, dan pemanfaatan media sosial yang bertanggung jawab.


"Generasi Z saat ini dihadapkan pada arus informasi yang begitu deras dan tantangan yang semakin kompleks. Melalui program BRUS ini, kami berharap dapat membentengi para pelajar dengan pemahaman keagamaan yang kuat dan wawasan yang luas untuk merencanakan masa depan mereka dengan lebih baik," ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa program ini merupakan salah satu ikhtiar Kemenag untuk mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
 "Kami ingin para siswa tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan mampu membuat keputusan-keputusan bijak dalam hidupnya, termasuk dalam merencanakan pernikahan kelak," tegasnya.

Acara yang berlangsung di SMK Letris Indonesia 2 ini diikuti oleh siswa dan siswi dengan antusias. Pihak sekolah menyambut baik inisiatif dari Kemenag Kota Tangerang Selatan ini. Kepala SMK Letris Indonesia 2 Pamulang, yang diwakili oleh guru PAI, Ahmad Suagi, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi yang tinggi.

"Kami sangat berterima kasih kepada Kasi Bimas Islam dan jajarannya yang telah memilih sekolah kami sebagai lokasi penyelenggaraan. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan para siswa kami. Ini adalah bentuk sinergi yang sangat positif antara lembaga pendidikan dengan pemerintah dalam membina generasi muda," tuturnya.

Selama kegiatan berlangsung, para siswa mendapatkan berbagai materi dari narasumber, ketua Prodi PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, Dr Suwendi, M.Ag dan Ketua IPARI Kota Tangsel, San Ridwan Maulana, yang kompeten di bidangnya. dan beberapa topik yang dibahas antara lain adalah dampak psikologis dan sosial dari pernikahan di usia muda, pentingnya pendidikan dalam meraih cita-cita, serta tips-tips untuk menjadi remaja yang produktif dan berakhlak karimah di era digital.


Diharapkan, melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah ini, para pelajar di SMK Letris Indonesia 2 Pamulang dapat lebih siap dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya, terhindar dari perilaku-perilaku berisiko, dan mampu menjadi agen perubahan positif di lingkungan sekitarnya.








 KENCANA LOKA (Kemenag Tangsel) – Seksi Bimas Islam kantor Kemenag Tangsel bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel menggelar acara Finalisasi Buku Nasehat Tokoh Agama terkait Stop tindakan kekerasan pada perempuan dan anak, Jumat (15/08/2025) di Aula Kantor Kemenag Tangsel.

Hadir Kepala Kantor Kemenag Tangsel, Ahmad Rifaudin, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3AP2KB Kota Tangsel, Irma Safitri, Kasi Bimas Islam, Muhammad Edi Suharsongko, dan diikuti oleh tokoh dan penyuluh lintas agama.

Dalam sambutannya saat membuka acara, Kepala Kantor memberi apresiasi kepada semua pihak, khususnya Kasi Bimas Islam, sehingga buku kumpulan nasehat dari para tokoh agama ini dapat diselesaikan.

“Tentunya buku ini bukan hanya sekedar tulisan apalagi pajangan, tapi harus menjadi gerakan nyata,” tegasnya.

Ditambahkan, buku tersebut sangat penting sebagai panduan bagi tokoh agama atau tokoh masyarakat dalam memberikan edukasi dan pemahaman tentang bahaya kekerasan terhadap perempuan dan anak. 

"Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tokoh agama untuk menyampaikan materi pencegahan kekerasan perempuan dan anak dalam kegiatan dakwahnya," ujarnya.

Dijelaskannya, tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak di kota Tangerang Selatan terus meningkat. Oleh karenanya harus disosialisasikan kepada masyarakat atas resiko tindakan kekerasan tersebut.

“Reward dan Punishment harus disosialisasikan kepada masyarakat. Tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para penyuluh harus terus melakukan penyuluhan,” ungkapnya.

Menurutnya, anak adalah generasi penerus, maka harus mendapatkan perhatian serius. Tindakan kekerasan tidak hanya merusak fisik, tapi juga mental anak.

“Saya meminta Kasi Bimas Islam untuk menghimbau atau mungkin membuat surat edaran kepada para tokoh agama agar memasukkan tema pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam kegiatan dakwahnya. Kerjasama ini diharapkan dapat menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tangsel,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Irma Safitri, yang berharap dengan adanya buku ini diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Masyarakat harus turut serta berperan aktif dalam mencegah terjadinya kekerasan. Dan jangan pernah takut untuk melapor jika terjadi tindakan kekerasan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasi Bimas Islam, Muhammad Edi Suharsongko, mengaku pihaknya telah melakukan beberapa kegiatan dalam rangka mensolialisasikan pencegahan tindakan kekerasan.

"Kita sudah mengadakan pertemuan dengan para tokoh lintas agama, bahkan menuangkannya dalam bentuk Podcast di channel Podcast Kemenag Tangsel, dari perspektif lintas agama agar sosialisasi ini dapat lebih masif ditonton oleh masyarakat luas," jelasnya.

Pihaknya akan terus berupaya mengerahkan para Penyuluh Agama di tempat tugasnya masing-masing agar masyarakat lebih paham bahaya dari tindakan kekerasan, khususnya terhadap perempuan dan anak. 



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
SETU (Kemenag Tangsel) – Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, membuka pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-16 Kota Tangsel yang dihelat di Kawasan Kantor Kecamatan Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu Kota Tangsel Senin malam, 4 Agustus 2025.

Wagub Dimyati mengatakan kualitas pelaksanaan MTQ sangat tergantung pada sikap dewan hakim ketika menilai, jangan mendahulukan kepentingan tertentu.

“Jangan sampai singkatan Hakim jadi Hadap ke Aku Kalau Ingin Menang,” katanya, Senin.

Akronim tersebut merupakan alarm bahaya jika terjadi pada MTQ ke-16 Kota Tangsel, karena nanti akan berpengaruh pada pelaksanaan MTQ Provinsi sehingga tidak akan melahirkan peserta terbaik di MTQ Nasional.

“Hati-hati betul ya para hakim, karena di tangan anda sekalian nasib kafilah Banten di MTQ Nasional. Ini penting untuk saya sampaikan, karena kan sebentar lagi MTQ Banten terus nanti kan harus menang di nasional,” dia mengingatkan.

Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk menempatkan MTQ sebagai cara menguatkan spritual dan jiwa ksatria, sehingga jangan sampai dikotori oleh prilaku persekongkolan dalam memenangkan peserta.

“Makna luhur MTQ itu penguatan spiritual, bagi semua yang terlibat. Ini kan dalam rangka memuliakan Al-Quran juga di tanah Banten,” ucapnya.

Dia membeberkan perjalanan MTQ Banten ke depan butuh sosok yang teguh dalam mengamalkan nilai kejujuran dalam melakukan penilaian. Jika nanti terdapat yang melanggar, dia meminta untuk segera dievaluasi untuk kebaikan bersama.

“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai wahana silaturahmi yang baik dan jangan sampai terjadi prilaku yang bertentangan dengan nilai luhur Al-Quran,” dia mengajak.

Diberitakan,Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menyebut Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) ke-16 Kota Tangsel lebih inklusif karena melibatkan tuna rungu.

Ini kali pertama di tanah air MTQ melibatkan tuna rungu meski dalam eksebisi yang sebelumnya ada Cabang Tunanetra.

“MTQ ke-16 Kota Tangsel menjadi inspirasi bagi kabupaten dan atau kota di tanah air dalam hal melibatkan tuna rung,” katanya dalam pembukaan MTQ ke-16 Kota Tangsel di Kawasan Kantor Kecamatan Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangsel pada Senin malam 4 Agustus 2025.



Dia mengaitkan MTQ dengan karakter religius yang melekat dalam mota Tangsel, sehingga kegiatan pecinta Al-Quran tersebut membantu Pemerintah Kota atau Pemkot Tangsel dalam melakukan pembangunan.

Pembangunan bagi dia, bukan sekedar bentuk fisik tapi juga non fisik yakni karakter dengan sikap religius yang melekat pada warga. Ini menjadi penopang kuat berjalannya pembangunan di Kota Tangsel yang dari awal berdiri menjadikan aspek religius sebagai dasar.

“Kota Tangsel berdiri kokoh dengan pondasi religius sejak pertama kali berdiri. Jadi MTQ bukan sekedar perlombaan, tapi upaya untuk membumikan nilai Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Nilai Al-Quran tersebut salah satunya adalah memberikan pembangunan yang mempunyai inklusi sosial dengan menempatkan sama semua warga, salah satunya tuna rungu.

“Kami ucapkan terima kasih atas terobosan LPTQ Tangsel dalam mengadakan lomba bagi tuna rungu. Semoga ini menjadi titik awal untuk melaksanakan lagi di tahun mendatang,” demikian dia menutup.