SERPONG (Kemenag Tangsel) - Penyuluh agama Islam adalah dai daiyah yang menyentuh langsung kehidupan umat. Di tengah masyarakat Tangsel yang heterogen, dengan beragam latar belakang budaya dan keagamaan, dakwah harus bersifat inklusif, moderat, dan solutif.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Kemenag Tangsel, Ahmad Rifaudin, saat membuka kegiatan Pembinaan Dai dan Daiyah yang diinisiasi oleh Seksi Bimas Islam Kemenag Kota Tangerang Selatan, bertempat di Talaga Seafood BSD Serpong, Selasa (22/07/2025).
Lebih lanjut disampaikan, penyuluh hari ini bukan hanya juru dakwah di mimbar, tetapi influencer kebaikan yang mampu menyampaikan pesan spiritual melalui media digital. Harus bijak, cerdas, dan terbuka.
“Para dai dan daiyah harus terus meningkatkan literasi media dan digital agar mampu mengemas dakwah secara menarik dan relevan. Gaya komunikasi harus menyesuaikan segmen audiens, namun tetap berpijak pada nilai bil hikmah dan mauidzoh hasanah,” tegasnya.
Menurutnya, metodologi dakwah menjadi hal yang krusial, termasuk kemampuan menjawab isu-isu sosial, membangun kolaborasi lintas komunitas, dan menumbuhkan semangat ukhuwah serta toleransi.
“Dakwah di Tangsel harus mampu menjaga harmoni antarumat dan intern umat beragama. Dai dan daiyah harus terus belajar, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” ungkapnya.
Pada kesempataran tersebut, Kepala Kantor juga menyoroti pentingnya sertifikasi halal di Kota Tangsel sebagai Kota kuliner, hal ini merupakan bagian dari layanan keagamaan. Penyuluh Agama Islam, khususnya ASN PNS dan PPPK, didorong untuk berperan aktif sebagai pendamping dan penyelia halal demi kemajuan industri kuliner yang sesuai syariat.
Sementara itu, Kasi Bimas Islam, M. Edi Suharsongko, dalam sambutannya mengatakan bahwa tantangan dakwah di masa kini semakin kompleks. Arus informasi yang deras dan masif di media sosial menuntut para penceramah untuk lebih adaptif, kreatif, dan inovatif dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan.
“Dai dan daiyah bukan hanya sekadar penceramah di atas mimbar, tetapi juga harus mampu menjadi teladan, pembimbing, dan penyebar pesan damai di lingkungan masing-masing, termasuk di dunia maya,” ujarnya.
Kegiatan pembinaan ini mengundang dua narasumber yaitu Sekum MUI Tangsel, Abdul Rojak, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ade Rina Farida, yang membahas berbagai materi, mulai dari fikih dakwah kontemporer, strategi dakwah di era digital, hingga wawasan kebangsaan.
Kegiatan ini menjadi momentum nyata sinergi antara dakwah, layanan masyarakat, dan transformasi digital, dengan penyuluh agama sebagai ujung tombak perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Juli 22, 2025
Bimas Tangsel





Posted in